Pada tanggal
4 Maret 1998, Menteri Uni Eropa yang menangani masalah Integrasi memberikan
tawaran kepada Kroasia untuk bergabung kedalam Uni Eropa. Tawaran ini tentu
saja sangat menarik, apalagi Kroasia baru saja mengalami gejolak politik yang
sangat dahsyat yaitu dengan pecahnya Yugoslavia. Saat itu
Kroasia seperti anak
ayam yang kehilangan induknya.
Tawaran
tersebut langsung disambut dengan penuh semangat oleh pemerintah Kroasia.
Sebagaimana negara pecahan Yugoslavia lainnya, mereka pun langsung membuat
perjanjian Stabilisation and
Association Agreement dengan Uni Eropa. Pembahasan perjanjian ini
pun berlangsung dengan cukup cepat. Pada tanggal 29 Oktober 2001, perjanjian
ini sudah dapat ditandatangani.
Pemerintah
Kroasia sebenarnya ingin langsung mengajukan aplikasi pencalonannya kedalam Uni
Eropa, hanya saja mereka tersandung oleh masalah hak asasi manusia. Kroasia
dianggap melindungi para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan pada masa
Yugoslavia. Uni Eropa menuntut Kroasia agar segera bekerjasama dengan ICTY (International Criminal Tribunal for the
Former Yugoslavia) dan menyerahkan para pelaku kejahatan kemanusiaan
tersebut.
Masalahnya
ternyata tidak semudah yang dibayangkan, mereka yang dianggap sebagai pelaku
kejahatan kemanusiaan di mata internasional ternyata justru dianggap sebagai
pahlawan oleh masyarakat Kroasia. Rakyat Kroasia menolak penangkapan
orang-orang tersebut dan menentang tuntutan dari Uni Eropa. Akibatnya,
pemerintah Kroasia dalam posisi yang cukup terjepit diantara kepentingan rakyat
dan kepentingan Uni Eropa.
Namun
akhirnya pemerintah Kroasia memilih untuk melakukan penangkapan terhadap para
pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut karena desakan masyarakat
internasional yang semakin kuat. Pemerintah Kroasia memiliki pertimbangan lain
dalam memutuskan masalah tersebut terutama terkait pencalonannya sebagai
anggota Uni Eropa. Benar saja, pada tahun 2003 Uni Eropa mulai menerima
aplikasi pencalonan dari Kroasia dan melakukan pembahasan terkait masalah
lainnya.
Keputusan
pemerintah ini menimbulkan kekecewaan besar di mata rakyat. Rakyat Kroasia
sempat dilanda Euroscepticism dan
menolak pencalonan Kroasia kedalam Uni Eropa. Kekecewaan tersebut bertambah
besar ketika melihat satu per satu pahlawannya di ekstradisi untuk diadili ke
ICTY. Perdebatan politik di tingkat domestik pun semakin memanas, kondisi ini
membuat pemerintah Kroasia merenggangkan hubungan dengan ICTY agar dapat
meredakan kondisi dalam negeri. Pemerintah Kroasia mulai terlihat kurang serius
dalam mengekstradisi para pelaku kejahatan kemanusiaan.
Tanda-tanda
ketidakseriusan Kroasia ini mulai dicium oleh Uni Eropa. Kroasia terkesan
berbelit-belit ketika ditugaskan untuk menangkap Jendral Ante Gotovina, buronan
kelas kakap ICTY yang banyak dilindungi oleh warga Kroasia karena dianggap
sebagai pahlawan. Pada tanggal 20 Desember 2004 Uni Eropa mengancam akan
menunda pembahasan tentang keanggotaan Kroasia jika negara tersebut tidak
kunjung menunjukkan sikap kooperatif dengan ICTY.
Ancaman
tersebut ternyata tidak sekedar gertak sambal belaka, pada tanggal 16 Maret
2005 Dewan Eropa ternyata benar-benar membatalkan pembahasan keanggotaan
Kroasia. Melihat sikap Uni Eropa yang begitu tegas, Kroasia akhirnya kembali
menunjukkan sikap kooperatifnya dengan ICTY. Terbukti, pada tanggal 7 Desember
2005 Jendral Ante Gotovina berhasil ditangkap oleh di Pulau Tenerife
Spanyol berkat kerjasama antara polisi Spanyol dan Kroasia. Ia lalu dibawa ke
Den Haag untuk diadili atas kejahatan perang.
Penangkapan
jendral tersebut berhasil melunakkan sikap Uni Eropa terhadap Kroasia, apalagi
Kepala Jaksa Penuntut ICTY, Carla Del Ponte juga mengatakan bahwa Kroasia sudah
menunjukkan sikap kooperatif dengan ICTY. Perundingan terkait pencalonan
Kroasia pun dimulai kembali. Banyak rakyat Kroasia yang belum bisa menerima
penangkapan Jendral Ante Gotovina, apalagi pada bula April 2011 hukuman untuk
jendral tersebut diperpanjang sehingga membuat rakyat semakin terluka dan tidak
senang dengan Uni Eropa.
Masalah ICTY
ternyata bukanlah satu-satunya masalah yang harus dihadapi oleh Kroasia saat
mencalonkan diri sebagai anggota Uni Eropa. Masalah lainnya adalah terkait
dengan sengketa perbatasan antara Kroasia dengan salah satu negara anggota Uni
Eropa, yakni Slovenia. Pada bulan Desember 2008, Slovenia menolak pencalonan
Kroasia sebelum sengketa perbatasan tersebut terselesaikan. Kondisi ini membuat
pembahasan pencalonan Kroasia akhirnya terpaksa terhenti selama 10 bulan.
Keadaan ini
berusaha diredam oleh Kroasia dengan menggunakan mediasi internasional,
Slovenia menyetujui usulan tersebut dan membuka kembali peluang pencalonan
Kroasia di Uni Eropa. Pada bulan September 2009, proses negosiasi antara Uni
Eropa dengan Kroasia kembali dibuka. Namun pada April 2010, Slovenia
kembali menjegal Kroasia dengan memveto Chapter 31 terkait Foreign, Security & Defense Policy. Aksi
ini berakhir setelah Badan Arbritase Internasional memberikan keputusan terhadap
sengketa tersebut, Pada Juni 2010 Slovenia sudah tidak lagi memveto Kroasia.
Sengketa
perbatasan yang dimiliki oleh Kroasia ini sebenarnya tidak hanya dengan
Slovenia tetapi juga dengan beberapa negara tetangga lainnya seperi Serbia,
Bosnia & Herzegovina, dan Montenegro. Hanya saja ketiga negara tersebut
tidak termasuk anggota Uni Eropa sehingga tidak memiliki hak untuk memveto
pencalonan Kroasia. Belajar dari sengketa yang dialami antara Slovenia
dan Kroasia, kini Motenegro dan Kroasia sudah mulai membahas tentang
penyelesaian sengketa tersebut lebih awal agar keduanya tidak memiliki hambatan
jika diterima menjadi anggota Uni Eropa.
Masalah
berikutnya yang sempat menghambat Kroasia adalah kasus jual beli tanah di
Kroasia oleh warga Italia. Banyak warga Italia yang melakukan protes terhadap
Kroasia karena mengalami diskriminasi setiap kali melakukan pembelian tanah di
negara tersebut. Kroasia menyangkal tuduhan itu dengan mengatakan bahwa
negaranya memberikan perlakuan yang sama terhadap semua warga Uni Eropa terkait
urusan jual beli tanah di Kroasia. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa
masyarakat Kroasia melakukan diskriminasi terhadap pembeli asal Italia.
Sudah
menjadi rahasia umum bahwa urusan jual beli tanah di Kroasia terutama di wlayah
Istria yang melibatkan warga negara Italia biasanya akan menjumpai kesulitan.
Hal ini tidak terlepas dari aspek sejarah yang kuat dan berbagai mitos yang
terjadi selama Perang Dunia Kedua. Mitos itu berkembang ketika wilayah Istria
yang awalnya berada dibawah kekuasaan Kerajaan Italia, dilimpahkan kepada
Kerajaan Sosialis Yugoslavia. Mitos tersebut semakin meluas dan akhirnya
menjadi isu yang cukup sensitif di Kroasia.
Pada
pertengaha tahun 2006, Kroasia dan Italia menyetujui tentang sebuah kesepakatan
yang memudahkan masyarakat kedua negara untuk membeli tanah. Saat ini, warga
negara Kroasia dapat dengan mudah membeli tanah di Italia, demikian pula denga
warga negara Italia dapat membeli tanah di Kroasia.
Perlu diakui
bahwa pemerintah Kroasia memang cukup cerdik dalam menangani dan mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi dalam pencalonannya untuk menjadi anggota Uni
Eropa. Keberhasilan Kroasia dalam mengatasi berbagai masalah ini membuat banyak
pengamat yang memprediksi negara ini dapat menjadi anggota Uni Eropa dengan
cepat.
Bahkan pada
tahun 2007, Kroasia sempat diperkirakan akan memecahkan rekor Slowakia yang
dapat menjadi anggota Uni Eropa hanya dalam waktu 2,5 tahun dari tahap awal
negosiasi. Namun saat itu Kroasia masih memiliki beberapa kendala yang belum
terselesaikan, pada tanggal 25 April 2007 Parlemen Eropa pernah mengucapkan
selamat atas kemajuan pesat yang dialami oleh Kroasia. Hanya saja Kroasia
“Harus melakukan upaya yang lebih serius terutama di bidang kerjasama dengan
ICTY, reformasi peradilan, dan transisi ke ekonomi pasar.”
Pada tanggal
5 November 2008, Komisi Eropa mengumumkan Laporan Kemajuan Tahunan tentang
pencalonan Kroasia. Kroasia dianggap sudah mampu untuk menjadi anggota Uni
Eropa, hanya saja masih ada beberapa negosiasi yang harus diselesaikan. Jika
semuanya selesai sebelum tahun 2009, maka besar kemungkinan Kroasia dapat
menjadi anggota Uni Eropa pada tahun 2011.
Namun pada
tahun 2010 kembali terjadi pengunduran, krisis ekonomi yang melanda Uni Eropa
membuat organisasi itu menerapkan aturan yang lebih keras terhadap anggota
baru. Akibatnya, negosiasi antara Kroasia dengan Uni Eropa pun direvisi. Pada
bulan April 2010, Kroasia mulai menyelesaikan negosiasinya kembali dengan Uni
Eropa.[7] Jika semuanya berjalan lancar, pada akhir tahun
2011 Uni Eropa sudah dapat referendum di Kroasia dan melakukan perjanjian
aksesi. Proses ratifikasi oleh 27 negara anggota Uni Eropa diperkirakan akan
memakan waktu selama satu setengah tahun dengan catatan tidak ada kontroversi
yang muncul kembali.
Lalu kapan
Kroasia akan menjadi anggota Uni Eropa? jika melihat kondisi demikian,
diperkirakan pada tanggal 1 Juni 2013 Kroasia sudah dapat menjadi anggota Uni
Eropa. Namun kapanpun tanggalnya, Kroasia setidaknya sudah dapat bernapas lega
karena status anggota Uni Eropa sudah ada didepan mata.
Masalahnya
tinggal ada pada rakyat Kroasia, karena hingga saat ini banyak warga Kroasia
yang masih menunjukkan sikap tidak senang terhadap Uni Eropa. Hasil referendum
terkait Uni Eropa seringkali mengalami gejolak, pada tahun 2011 ini dukungan
rakyat Kroasia terhadap pencalonannya untuk menjadi anggota Uni Eropa anjlok
dari 80% menjadi 26%. Inilah masalah nyata yang harus dihadapi oleh pemerintah
Kroasia mengingat dukungan dalam negeri justru semakin lemah. Jika tidak segera
tidak diatasi, bukan tidak mungkin usaha pemerintah Kroasia dalam mengatasi
berbagai sengketa dengan luar negeri justru mentah dan hambar di mata rakyatnya
sendiri.
Lampiran 1.
Tabel Sinkronisasi Peraturan Uni Eropa dan Kroasia
|
No.
|
Jenis Peraturan
|
Kondisi Sekarang
|
|
1
|
Free
Movement of Goods
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
2
|
Free of
Movement for Workers
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
3
|
Right
Establishment For Companies and Freedom to Provide Services
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
4
|
Free
Movement of Capital
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
5
|
Public
Procurement
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
6
|
Company
Law
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
7
|
Intellectual
Property Law
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
8
|
Competition
Policy
|
Belum Menyesuaikan
|
|
9
|
Finacial
Services
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
10
|
Information
Society and Media
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
11
|
Agricutural
and Rural Development
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
12
|
Food
Safety, Veterinary and Phytosanitary Policy
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
13
|
Fisheries
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
14
|
Transport
Policy
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
15
|
Taxation
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
16
|
Energy
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
17
|
Economy
and Monetary Policy
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
18
|
Statistics
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
19
|
Social
Policy and Employment
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
20
|
Enterprise
and Industrial Policy
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
21
|
Trans
European Networks
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
22
|
Regional
Policy and Coordination of Structural Instruments
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
23
|
Judicary
and Fundamental Rights
|
Belum Menyesuaikan
|
|
24
|
Justice,
Freedom and Security
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
25
|
Science
and Research
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
26
|
Education
and Culture
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
27
|
Environment
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
28
|
Consumer
and Health Protection
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
29
|
Customs
Union
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
30
|
External
Relations
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
31
|
Foreign,
Security, and Defence Policy
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
32
|
Financial
Control
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
33
|
Financial
and Budgetary Provisions
|
Dapat Menyesuaikan
|
|
34
|
Institutions
|
Tidak Ada Masalah
|
|
35
|
Others
Issues
|
Tidak Ada Masalah
|